Chandra Ekajaya Bahas Pengertian Akulturasi Dan Penggagas Islam Nusantara

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Chandra Ekajaya pernah mengatakan bahwa dalam dunia akademik dikenal berbagai macam istilah asing yang digunakan. Fungsi dari istilah asing ini adalah untuk membantu atau memudahkan pelajar dalam memahami pelajaran. Meskipun gagal dalam akademik tetapi pria kelahiran Malang, Jawa Timur ini sangat paham dengan konsep ini.

Salah satu istilah asing yang dimaksud adalah akulturasi. Pengusaha You And Me dan kuliner Q Pizza ini akan menjelaskan mengenai pengertian akulturasi. Secara garis besar, pengertian akulturasi adalah percampuran dua kebudayaan yang berbeda dan menghasilkan suatu kebudayaan baru. Hal ini sering kali dilakukan oleh agama dan ideologi.

Dok.Chandra Ekajaya

Chandra Ekajaya kemudian juga akan menjelaskan mengenai penggagas Islam Nusantara. Jika berkaca dari kampanye serta berbagai macam visi dan misi yang ada dalam Islam Nusantara, maka jelas yang menjadi penggagas adalah Sunan Kalijaga. Hal ini bisa dimaklumi karena memang beliaulah yang menggunakan cara dan metode mix dan combine.

Dengan cara menggabungkan dua kebudayaan yang berbeda, tidak jarang Sunan Kalijaga membentuk sebuah kebudayaan baru. Misalnya saja sholawatan, tahlilan, grebeg, dan sebagainya. Semua itu merupakan landasan dari berdirinya Islam Nusantara. Karena memang begitulah Islam yang diizinkan hidup di bumi ini. Jika agama-agama asing yang masuk ke Indonesia tidak menyesuaikan diri dengan budaya Indonesia, dalam arti ia tidak mau dibina, maka ia akan dibinasakan.

Chandra Ekajaya sudah mewanti-wanti hal itu dari dulu. Makanya ia sangat sepakat dengan adanya Islam Nusantara yang sangat dekat dengan kebudayaan para leluhur. Setidaknya ini adalah golongan yang dapat dibina serta bisa hidup rukun dengan berbagai macam dan jenis manusia di tanah pertiwi ini. Karena tanah ini spesial, maka penduduknya harus istimewa.

Chandra Ekajaya Babar Cerita Jaka Tarub Dan Nawang Wulan

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Chandra Ekajaya mencoba mengingatkan para penduduk Indonesia supaya dapat meneladani kisah para leluhur. Misalnya saja kisah Jaka Tarub dan Nawang Wulan. Banyak orang yang salah mengartikan bahwa kisah ini lebih menjurus kepada penipuan dan perbuatan yang mesum. Ini adalah salah kaprah yang luar biasa.

Pengusaha muda nan sukses ini menggaris bawahi bahwa kejadian Jaka Tarub dan Nawang Wulan ini terjadi di era Majapahit menjelang akhir. Tepatnya pada masa Brawijaya ke-6. Sebuah imperium maha besar, yaitu Majapahit sedang mempersiapkan putra mahkotanya menjalani tapa lana ke dalam hutan selama beberapa tahun tanpa ditemani seorang pun manusia.

Dok.Chandra Ekajaya

Chandra Ekajaya kelahiran Malang, Jawa Timur yang akrab dipanggil Ki Sambarlangit ini menjelaskan bahwa putra mahkota yang dijuluki Jaka Tarub ini mempunyai kesungguhan tekad yang luar biasa. Sehingga saat bertapa aura dan pesonanya memancar sampai kahyangan para Hapsara dan Hapsari. Salah satu Hapsari pun sangat tertarik dengan pesona putra mahkota itu.

Akhirnya Hapsari yang kemudian dijuluki Nawang Wulan itu pun mengajak teman-temannya untuk turun ke bumi dan mandi di sebuah sungai. Saat itu Jaka Tarub akhirnya tergoda dengan paras cantik Nawang Wulan, dan para Hapsari itu pun memainkan drama dengan seolah-olah selendangnya hilang dan tidak bisa terbang.

Pemilik distro You And Me ini mengatakan bahwa sebenarnya tanpa selendang pun ia bisa terbang. Tetapi karena ingin bertemu dengan lelaki yang mempesona dirinya, maka ia pun rela memainkan sandiwara itu. Tetapi karena perbedaan entitas, maka oleh ayahanda, Nawang Wulan pun disuruh kembali. Karena jika tidak maka bumi atau arcapada akan hancur terkena gelombang kedewataannya. Maka ia pun kembali.